Agen Asuransi Indonesia Terkucil di Internasional

Para agen asuransi dari Indonesia, sampai kini masih terkucil pada komunitas pertemuan internasional karena belum memiliki asossiasi yang terdaftar sebagai anggota Asia Pasific Financial Services Association (APFSA), suatu perkumpulan para agen asuansi jiwa se Asia Pasific.

Belum terdaftarnya para agen asuransi jiwa itu, kata Ida Kurainy, direktur assosiasi Ida Kurainy, usai menjadi pembicara pada Kongres Aplic/Asia Pasific Life Congres ke 8 di Genting, Malaysia, Minggu, karena di Indonesia belum ada assosiasi khusus agen asuransi jiwa.

Di Indonesia, menurut Ida, yang ada hanyalah Asosiasi Perusahaan Asuransi seperti Assosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Assosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Kedua lembaga itu hanya mewakili perusahaan asuransi tidak pada agen asuransi. “Karena itu, pembentukan asosiasi agen di Indonesia sudah sangat mendesak,” jelas Ida.

Dia mencontohkan keberadaan assosiasi agen di Malaysia. “Di sini, ada assosiasi agen asuransi jiwa yakni Namlifa (Nasional Association of Malaysian Life Insurance and Financial advisors), sedang assosiasi perusahaan asuransi adalah Liam (Life Insurance Association of Malaysian). “Di Indonesia yang ada hanya AAJI sehingga kita tidak bisa mewakili Indonesia dalam pertemuan Aplic itu,” katanya.

Jumlah anggota APFSA saat ini 18 negara di Asia Pasific.Selain Vietnam, Indonesia satu-satunya negara di ASEAN yang belum menjadi anggota APFSA. Karenanya, menurut dia, Indonesia perlu secepatnya membuat assosiasi para agen asuransi jiwa tersebut agar tidak terkucil dari komunitas pertemuan internasional seperti pada pertemuan Aplic saat ini.

“Jumlah agen di Indonesia kini lebih dari 80 ribu orang agen, tetapi tidak mempunyai wadah yang jelas sehingga jika ada agen yang punya masalah, seperti agen dari Prudential Life, dan perusahaan asuransi lainnya, tidak ada advokasi, hukum maupun pembelaan moral dari assosiasi bersangkutan. Sebaliknya jika ada agen asuransi yang melakukan pelanggaran kode etik, maka tidak ada sanksi,” katanya.

Menjawab pertanyaan ANTARA, Ia mengatakan, “keberadaan saya sebagai pembicara di sini, hanya karena pergaulan saja dan kemampuan saya di bidang asuransi jiwa. Karena itu, saya sedih melihat banyak peserta dari Indonesia, sekitar 100 orang agen ikut pertemuan di sini, atas nama pribadi yang tidak mewakili suatu bangsa.

Pertemuan Aplic yang dihadiri sekitar 10.000 orang agen di Genting itu, kata dia, cukup memberikan kontribusi bagi industri pariwisatanya, karena selain agen yang ikut kongres, ternyata mereka juga membawa keluarga.

“Seandainya Indonesia mempunyai wadah agen asuransi dan terdaftar sebagai anggota APFSA, maka dapat mengusulkan Indonesia sebagai tuan rumah dalam pertemuan para agen asuransi jiwa yang dilaksanakan dua tahun sekali,” katanya, seraya menambahkan, pengenalan Indonesia lewat forum-forum internasional masih perlu dilakukan. Sementara itu, sejumlah agen asuransi jiwa dari Indonesia, seperti Michael dan Janet, yang ikut pada pertemuan itu, menginginkan terbentuknya suatu wadah para agen.

“Kami berharap, pada 2009 Indonesia dapat menjadi tuan rumah dalam pertemuan Aplic ini, asal tahun ini, Indonesia sudah mempunyai assosiasi para agen asuransi jiwa,” kata Michael.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: